banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 bannerß 728x90 bannerß 728x90 banner 728x90
BERITA  

Gelar Rapimprov Kadin Sultra, Anton Timbang : Majukan Ekonomi di Bidang Sektor Industri Pertambangan

banner 120x600
banner 325x300 banner 325x300

KENDARI – Gelar Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) tahun 2023, Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Anton Timbang, Majukan ekonomi di bumi Anoa di bidang sektor pertambangan.

banner 325x300

Dalam rapat tersebut di hadiri Plh. Ketua Umum KADIN Indonesia, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Dewan Penasehat KADIN Sultra, Dewan Pertimbangan KADIN Sultra, para koordinator Wakil Ketua Umum, para Wakil Ketua Umum, Ketua Umum KADIN Aceh, para Kepala Badan Ketua KADIN kabupaten dan kota se-Sultra dan ALB KADIN Provinsi Sultra, Sekda Sultra, PJ Wali Kota Kendari, Kemenkumham Sultra, Forkopimdam.

Dalam Usulan ketum kadin Sultra Anton Timbang, Untuk memajukan ekonomi Sultra dua hal menarik yang harus di cermati bersama. Pertama dapat di lihat dari sisi sektor pertambangan, Terutama Nikel yang ada di Sultra mulai meningkat dari tahun 2010 lalu sampai saat ini, Memberikan kontribusi 20 persen dan menariknya dalam fenomena peningkatan pertumbuhan sektor pertambangan sektor industri dalam pengelolaan baru mencapai sekitar 5-8 persen.

Kedua, telah terjadi pergeseran sektor usaha terhadap retribusi PDRB di Sultra saat ini, Pada tahun 2005 lalu sektor pertanian meningkat 42 persen, tetapi di tahun 2022 menurun 23 persen, Meskipun dari sisi volume masih tetap tumbuh.

Dapat di lihat dari sisi sektor pertambangan, Terutama Nikel yang ada di Sultra mulai meningkat dari tahun 2010 lalu sampai saat ini, Memberikan kontribusi 20 persen dan menariknya dalam fenomena peningkatan pertumbuhan sektor pertambangan sektor industri dalam pengelolaan baru mencapai sekitar 5-8 persen.

Selain itu, Dari sektor investasi dan pertambangan, Dari data Badan Pusat Statistik Sultra menunjukan bahwa produksi pertambangan biji nikel terdiri dari 22,5 juta ton dan 120 ribu ton Fero nikel, menghasilkan bahan baku setengah jadi.

“Ini menunjukkan pertambangan nikel kita baru mengahasilkan bahan setengah jadi, Untuk itulah kami terus mengusulkan agar pemerintah dapat meningkatkan kebijakan hilirisasi industri pengolahan nikel untuk pembuatan baterai, industri pengalengan, stainless stell dan berbagai produk akhir lainnya,” ujar Anton Timbangan, di salah satu hotel di kota Kendari, Jum’at (25/11/2023)

Lebih lanjut, Anton Timbang, Menjelaskan bahwa produksi aspal Buton tercatat 91 ribu ton, sedangkan cadangan deposit aspal mencapai 660 juta ton. Di sisi lain kebutuhan aspal untuk jalan nasional mencapai 1,2 juta ton per tahun, sementara yang 44-40 persen dipenuhi dari impor.

“Kondisi inilah yang selalu kami sampaikan di berbagai kesempatan Rapimnas dan Rakorwil Kadin, Kami juga telah mendapat restu dari Ketua Umum Kadin Indonesia dalam hal ini Arsjad Rasjid untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan seluruh Ketua KADIN provinsi agar industri aspal dapat menjadi peluang investasi yang menarik,” jelasnya

Terkait hal tersebut, lanjut pria yang akrab disapa AT ini, dukungan kebijakan pemerintah juga sudah cukup memadai. Dan kabar baiknya aspal Buton telah masuk dalam E-Catalog Sultra dan juga telah menjadi program prioritas lembaga kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah dalam E-Catalog Nasional.

” Sebagaiman arahan Presiden RI saat berkunjung langsung ke Buton, yang mana Presiden memberikan arahan agar pemanfaatan aspal Impor tahu 2024 dihentikan untuk mengembangkan potensi aspal Buton,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Dari sisi sektor pertanian, khusunya komoditi beras dan perikanan. Hal perlu dicermati karena ini adalah kebutuhan pokok yang selalu memicu inflasi di Sultra. Meskipun Pemprov Sultra telah berhasil menekan tingkat inflasi dari 5,32 persen di bulan Juni menjadi 3,46 persen di September dan 3,41 persen di Oktober 2023. Namun komoditas beras menjadi kontributor terbesar di bulan September yaitu 0,36 persen

” Maka Permasalahan produksi beras masih berkutat di tingkat produksi. Di mana pada periode 2020-2022 produksi beras mengalami tren penurunan dari 305 ribu ton di 2020 menjadi 275 ribu ton di tahun 2023. Di sisi lain, konsumsi beras semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk secara year to year, komoditas beras tetap menjadi kontributor terbesar yaitu 0,83 persen sehingga harus menjadi perhatian serius untuk kita semua,” terangnya

Untuk itu, Ketum Kadin Sultra Anton Timbang, Menjelaskan bahwa permasalahan geografis dan kultural daerah di Sultra juga mempengaruhi tingkat produksi beras. Dari 17 kabupaten dan kota, hanya lima kabupaten yang surplus yaitu, Konawe, Konsel, Kolaka, Koltim, dan Bombana. 12 kabupaten/kota lainnya masih kekurangan, di mana tingkat konsumsinya masih lebih tinggi dari produksinya.

” Sementara untuk komoditi perikanan lebih kepada sistem logistik yang kurang baik, mengingat ikan komoditas yang cepat rusak dan dipengaruhi musim penangkapan yang terbatas pada gelombang besar, Untuk itu jika diperkenankan KADIN Sultra akan melakukan kerja sama untuk pemanfaatan beberapa PPI yang tidak optimal. Bahkan sebagian tidak dimanfaatkan, misalnya PPI Pasar Wajo di Buton,” terangnya. (Ks-Colly)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *